Translate

Kamis, 31 Mei 2012

FILOLOGI DAN FOKLOR


Rangkuman Materi  oleh Ismira Yanti


FILOLOGI  DAN FOKLOR


A.    FILOLOGI

1.    Pengertian Filologi

           Filologi berasal dari bahasa Yunani philein, "cinta" dan logos, "kata". Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno.
Menurut Kamus Istilah Filologi ( Baroroh Baried, R. Amin Soedoro,R. Suhardi, Sawu, M.Syakir, Siti Chammah Suratno:1977 ), Filologi merupakan ilmu yang menyelidi perkembangan kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau yang meyeidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesustraannya. Laksikon Sastra ( Suhendra Yusuf: 1995) dikatakan bahwa dalam cakupan yang luas filologi berarti seperti tersebut di atas, tetapi dalam cakupan yang lebih sempi, Filologi merupakan telaah naskah kuno untuk menentukan keaslian, bentuk autentik,dan makna yang terkandung di dalam naskah itu. Sementara W.J.S. Poerwadarminta (1982) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia lebih menekankan bahwa filologi mempelajari kebudayaan manusia terutama dengan menelaah karya sastra atau sumber-sumber tertulis.
       Jadi, dapat disimpulkan bahwa Filologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia dengan cara menelaah bahasa, sastra, dan budaya itu dengan bersumber pada naskah-naskah kuno untuk menentukan keaslian, bentuk autentik dan makna yang terkandung dalam naskah itu.

Ciri khas dan tujuan  Filologi yaitu :
1.  Mengungkapkan gambaran naskah dari segi fisik dan isinya.
2.  Mengemukakan persamaan dan perbedaan antarnaskah yang berbeda.
3.  Menjelaskan pertalian antar naskah.
4.  Menguraikan fungsi isi, cerita, dan fungsi teks.
5  Menyajiakan suntingan teks yang mendekati teks asli, autoritatif, bersih dari kesalahan untuk keperluan penelitian dalm berbagai bidang ilmu(sastra, bahasa, filsafat).
6. Menyajikan terjemahan hasil suntingan teks, tullisan,dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas.


2.    Jenis-Jenis Filologi 

    Filologi terbagi menjadi dua yaitu Kadikologi dan Tekstologi .
1.    Kadikologi
           Istilah kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’–bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah.
         Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah kodikologi (codicologie) diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani, Alphonse Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Seprieure, Paris, pada bulan Februari 1944. Akan tetapi istilah ini baru terkenal pada tahun 1949 ketika karyanya, ‘Les Manuscrits’ diterbitkan pertama kali pada tahun tersebut. Dain sendiri mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Dain juga menegaskan walaupun kata kodikologi itu baru, ilmu kodikologinya sendiri bukanlah hal yang baru. Selanjutnya Dain juga mengatakan bahwa tugas dan “daerah” kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan-penggunaan naskah itu.

2.    Tekstologi
         Secara etimologis, Tekstologi terdiri atas dua kata yaitu teks dan logi, yang berarti ilmu tentang teks. Tekstologi adalah bagian dari filologi yang berusaha mengkaji teks yang terkandung dalam naskah-naskah kuno. Teks dalam naskah kuno sarat dengan nilai-nilai luhur ajaran nenek moyang.
Tekstologi ialah ilmu yang mempelajari seluk beluk dalam teks meliputi meneliti penjelmaan dan penurunan teks sebuah karya sastra, penafsiran, dan pemahamannya. Dengan menyelidiki sejarah teks suatu karya.


B.    FOKLOR

1.    Pengertian Foklor
           Folklor terdiri dari dua kata, yaitu folk dan lore. Folk berarti kolektif, dan lore artinya adat. Menurut Danandjaja folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antar lain: warna kulit yang sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang sama, taraf pendidikan byang sana, dan agama yang sama. Lore adalah tradisi yang diwariskan turun temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Dundes dalam Danandjaja,1994 : 1)
         Rusyana (1978: 1) folklor adalah merupakan bagian dari persendian ceritera yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat. Sedangkan menurut pendapat Iskar dalam H.U. Pikiran Rakyat (22-Januari-1996) folklor adalah kajian kebudayaan rakyat jelata baik unsur materi maupun unsur non-materinya. Kajian tersebut kepada masalah kepercayaan rakyat, adat kebiasaan, pengetahuan rakyat, bahasa rakyat (dialek), kesusastraan rakyat, nyanyian dan musik rakyat, tarian dan drama rakyat, kesenian rakyat, serta pakaian rakyat.

 2. Ciri-ciri Folklor
      Kedudukan folklor dengan kebudayaan lainnya tentu saja berbeda, karena folklor memiliki karakteristik atau ciri tersendiri. Menurut pendapat Danandjaja (1997: 3),
           Ciri-ciri pengenal utama pada folklor bisa dirumuskan sebagai berikut:
1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut.
2. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
3.  Folklor ada (exis) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation).
4.  Folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
5. Folkor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola, dan selalu menggunakan kata-kata klise.
6. Folklor mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
7. Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai logika umum. Ciri pengenalan ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
8. Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
Folklor pada umumnya bersifar polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manisfestasinya.

C.    JENIS-JENIS FOKLOR

Secara garis besar Foklor terbagi dalam tiga kelompok besar yaitu:
1.    Folklor Lisan (Verval Folklore)
        Menurut pendapat Rusyana (1976) folklor lisan atau sastra lisan mempunyai kemungkinan untuk berperanan sebagai kekayaan budaya khususnya kekayaan sastra; sebagai modal apresiasi sastra sebab sastra lisan telah membimbing anggota masyarakat ke arah apresiasi dan pemahaman gagasan dan peristiwa puitik berdasarkan praktek yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad; sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat dalam arti ciptaan yang berdasarkan sastra lisan akan lebih mudah digauli sebab ada unsurnya yang sudah dikenal oleh masyarakat.

   Foklor lisan terdiri atas  Prosa lama dan puisi lama
1.  Prosa Lama  merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat.  Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:

1)    Hikayat,
       Berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, Si Pitung, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

2)    Sejarah (tambo)
     Sejarah  adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

3)    Kisah
      Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

4)    Dongeng
      Dongeng  adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
a. Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Beberapa contoh fabel, adalah: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung Bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dll.
b. Mite (Mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib. Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dll.
c. Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dll.
d. Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dll.
e. Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.
f. Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dll.

5) Cerita berbingkai
         Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam.

2.    Puisi Lama
       Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.
      Aturan- aturan itu antara lain :
         1. Jumlah kata dalam 1 baris
         2. Jumlah baris dalam 1 bait
         3. Persajakan (rima)
         4. Banyak suku kata tiap baris
          5. Irama

 Macam-macam puisi lama

1.    Mantra
          Mantra adalah puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
  Ciri-ciri mantra
   1)    Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd,abcde-abcde
    2)    Bersifat lisan, sakti/ magis
    3)    Adanya perulangan
    4)    Metafora merupakan unsur penting
    5)    Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius.
    6)    Lebih bebas dibandingkan puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.

    Contoh:
              Assalammu’alaikum putri satulung besar
              Yang beralun berilir simayang
              Mari kecil, kemari
              Aku menyanggul rambutmu
              Aku membawa sadap gading
              Akan membasuh mukamu

2.Gurindam
         Gurindam  adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
     Ciri-ciri gurindam:
     1). Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.
     2) Berasal dari Tamil (India)
     3) Baris pertama berisi semacam soal, masalah atau perjanjian.
     4) baris kedua berisi jawaban, akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama. 
                Contoh :
                Kurang pikir kurang siasat (a)
               Tentu dirimu akan tersesat (a)
               Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
                Bagai rumah tiada bertiang ( b )
                Jika suami tiada berhati lurus ( c )
                Istri pun kelak menjadi kurus ( c )

3.    Syair
          Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.
    Ciri - ciri syair :
    a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
    b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
    c. Bersajak a – a – a – a
    d. Isi semua tidak ada sampiran
    e. Berasal dari Arab

Contoh :
             Pada zaman dahulu kala (a)
             Tersebutlah sebuah cerita (a)
             Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
             Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
             Negeri bernama Pasir Luhur (a)
             Tanahnya luas lagi subur (a)
             Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
             Rukun raharja tiada terukur (a)
             Raja bernama Darmalaksana (a)
             Tampan rupawan elok parasnya (a)
             Adil dan jujur penuh wibawa (a)
             Gagah perkasa tiada tandingnya (a)


4.    Pantun
        Pantun  adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri – ciri pantun :
1.    Setiap bait terdiri 4 baris
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi
4. Bersajak a – b – a – b
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6. Berasal dari Melayu (Indonesia)

Jenis – jenis Pantun, antara lain :

     1. Pantun Adat
                  Menanam kelapa di pulau Bukum Tinggi
                  sedepa sudah berbuah
                  Adat bermula dengan hukum
                  Hukum bersandar di Kitabullah

     2. Pantun Agama
             Banyak bulan perkara bulan
             Tidak semulia bulan puasa
             Banyak tuhan perkara tuhan
             Tidak semulia Tuhan Yang Esa

3.Pantun Budi
                  Bunga cina diatas batu
                  Daunnya lepas kedalam ruang
                 Adat budaya tidak berlaku
                  Sebabnya emas budi terbuang

4.Pantun Jenaka
       Elok berjalan kota tua
       Kiri kanan berbatang sepat
       Elok berbini orang tua
       Perut kenyang ajaran dapat

            5. Pantun Anak-anak
                   Elok rupanya si kumbang jati
                  Dibawa itik pulang petang
                  Tidak terkata besar hati
                   Melihat ibu sudah datang

     Luasnya persebaran pantun di nusantara sehingga jumlah dan jenis  pantun yang dihasilkan sudah tidak dapat dihitung lagi.

5.    Karmina
       Karmina atau pantun kilat
       Ciri- ciri karmina
1)    Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan
2)    Bersajak aa-aa,aa-bb
3)    Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
4)    Tidak memiliki sampiran hanya berisakan isi.
5)    Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
Contoh:
Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

6.    Seloka
    Seloka atau pantun berikat.
     Ciri-ciri seloka yaitu;
1. Berbaris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
2.  Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga. Dan seterusnya.
3.   Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair.
4.   Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
  Contoh :
                      Lurus jalan ke Payakumbuh,
                      Kayu jati bertimbal jalan
                      Di mana hati tak kan rusuh,
                      Ibu mati bapak berjalan   
 
7.    Talibun
       Talibun atau pantun genap.
        Ciri –ciri talibun yaitu:
          1)     Jumalah barisnya lebih dari empat baris, tetap harus genap misalnya 6, 8, 10,..
      2)  Jika satu bait berisi enam baris maka susunannya tiga baris merupakan sampiran dan tiga          baris lainnya merupan isi. Dan seterusnya.
          3)    Apabila barisnya ada enam baris maka sajaknya a-b-c-a-b-c

Contoh :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
        Kalau anak pergi berjalan
        Ibu cari sanak pun cari isi
        Induk semang cari dahulu

8.    Bidal
       Bidal adalah cara berbicara dengan menggunakan bahasa kias. Bidal terdiri dari beberapa macam, diantaranya:
a.    Pepatah
      Pepatah adalah suatu peri bahasa yang menggunakan bahasa kias dengan maksud mematahkan ucapan orang lain atau untuk menasehati  orang lain.
Contoh :  Malu bertanya sesat di jalan
                Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.

b.    Tamsil
    Tamsil (ibarat) adalah suatu peribahasa yang berusaha memberikan penjelasan dengan perumpamaan dengan maksud menyindir, menasehati, atau memperingati seseorang yang dianggap tidak benar.
Contoh :  Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
                Keras-keras kersik, kena air lemut juga.

c.    Kiasan
       Kiasan adalah ungkapan tertentu untuk menyampaikan malsud yang sebenarnya kepada seseorang karena sifat, karakter, atau keadaan tubuh yang dimilikinya. Kata-kata sebutan yang digunakan dengan cara tersebut dinamakan bahasa kiasan.
Contoh :  Makan tangan = memperoleh keuntungan besar
                 Buah hati       = kekasih atau orang yang sangat dicintai.

d.    Perumpamaan
       Perumpamaan adalah suatu peribahasa yang digunakan seseorang dengan cara membandingkan suatu keadaan atau tingkah laku seseorang dengan keadaan alam, benda, atau makhluk alam semesta.
Contoh : Seperti anjing makan tulang.
                Seperti durian dengan mentimun

e.    Pameo
Pameo adalah suatu peribahasa yang digunakan untuk berolok-olok, menyindir atau mengejek seseorang atau sesuatu keadaan.
Contoh :
 1.  Ladang padang, orang betawi
   Maksunya berlagak seperti orang padang padahal dia orang  betawi  atau orang betawi yang berlagak kepadang-padangan.
2.  Bual anak Deli
   Maksudnya membual seperti membualnya daerah Deli terus menerus, namun isinya tidak bermakna.


2. Folklor Setengah Lisan (Partly Verbal Folklore)

1    Kepercayaan dan tahayul.
2.   Permainan (kaulinan) rakyat dan hiburan-hiburan rakyat.
3.   Drama rakyat Seperti: wayang golek, sandiwara, reog, calung, longser, banjet, ubrug, dll.
4.   Tari Seperti: tari tayub, tari keurseus, tari ronggeng gunung, tari topeng, dll.
5. Adat atau tradisi, Contohnya: tradisi upacara menanam padi, tradisi orang hamil hingga malahirkan, tradisi pernikahan, tradisi khitanan, tradisi membangun rumah, tradisi ruatan, dll
6. Pesta-pesta rakyat. Contohnya: pesta rakyat kawaluan Baduy, pesta rakyat ngalaksa di Rancaklong dan Baduy, pesta rakyat seba laut di pesisir pantai selatan, pesta rakyat kawin tebu di Majalengka, pesta rakyat seren taun di Ciptarasa dan Baduy, pesta rakyat mubur sura di Rancakalong.


3. Folklor Bukan Lisan (Nonverba Folklore)
           Folklor bukan lisan dapat dibagi menjadi dua golongan/bagian, yaitu: Folklor yang materiil, dan Folklor yang bukan materiil.

a. Folklor Materil
1) Arsitektur rakyat. Seperti: bentuk julang ngapak, tagog anjing, sontog, duduk jandela, dll.
2) Seni kerajinan tangan. Seperti: seni batik, anyaman, patung, ukiran, bangunan, dll.
3) Pakaian dan perhiasan. Seperti: Kebaya, baju kampret, totopong, bendo, pendok, giwang, penitik,   kalung, gengge, siger, mahkuta, kelom geulis, payung, dll.
4) Obat-obat rakyat. Seperti: jamu-jamuan, daun-daunan, kulit pohon, buah, getah, dan jampe-jampe.
5) Makanan dan minuman. Seperti: awug, tumpeng, puncakmanik, dupi, lontong, ketupat, angleng, wajit, dodol, kolotong, opak, ranginang, ulen, liwet, kueh cuhcur, surabi, bakakak, dadar gulung, aliagrem, dan minuman: lahang, wedang, bajigur, bandrek, dll.
6) Alat-alat musik. Seperti: kacapi, suling, angklung, calung, dogdog, kendang, gambang, rebab, celempung, terebang, tarompet, dll.
7) Peralatan dan senjata. Seperti: rumah tanga; nyiru, dingkul, ayakan, sirib, dulang, dll. Alat pertanian: pacul, parang, wuluku, garu, caplakan, kored, congrang, patik, dekol, balicong, bedog, peso raut, peso rajang, arit, dll. Senjata: tombak, paser, ketepel, sumpit, badi, keris, dll.
8) Mainan. Seperti: ucing sumput, pris-prisan, engkle-engklean, sondah, sapintrong, congklak, damdaman, kasti, langlayangan, papanggalan, luncat galah, kukudaan, dll.

b. Folklor Bukan Materil

1) Bahasa isyrat (gesture), Seperti: bersiul, mengacungkan jempol, mengedipkan mata, melambaikan tangan, mengangguk, menggeleng, mengepalkan tangan, dll.
2) Laras music Seperti: laras salendro, laras pelog, laras dedegungan, laras madenda, dll.

D.    DRAMA

     Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa Yunani), sedangkan dramtaik  adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.
  Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu
1. Drama baru / drama modern
        Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada      masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2.   Drama lama / drama klasik
         Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.
Contoh :
Wayang adalah drama yang pemainnya boneka wayang, baik wayang kulit, wayang orang dan lain sebagainya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar