Translate

Kamis, 31 Mei 2012

FILOLOGI DAN FOKLOR


Rangkuman Materi  oleh Ismira Yanti


FILOLOGI  DAN FOKLOR


A.    FILOLOGI

1.    Pengertian Filologi

           Filologi berasal dari bahasa Yunani philein, "cinta" dan logos, "kata". Filologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip, biasanya dari zaman kuno.
Menurut Kamus Istilah Filologi ( Baroroh Baried, R. Amin Soedoro,R. Suhardi, Sawu, M.Syakir, Siti Chammah Suratno:1977 ), Filologi merupakan ilmu yang menyelidi perkembangan kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau yang meyeidiki kebudayaan berdasarkan bahasa dan kesustraannya. Laksikon Sastra ( Suhendra Yusuf: 1995) dikatakan bahwa dalam cakupan yang luas filologi berarti seperti tersebut di atas, tetapi dalam cakupan yang lebih sempi, Filologi merupakan telaah naskah kuno untuk menentukan keaslian, bentuk autentik,dan makna yang terkandung di dalam naskah itu. Sementara W.J.S. Poerwadarminta (1982) dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia lebih menekankan bahwa filologi mempelajari kebudayaan manusia terutama dengan menelaah karya sastra atau sumber-sumber tertulis.
       Jadi, dapat disimpulkan bahwa Filologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia dengan cara menelaah bahasa, sastra, dan budaya itu dengan bersumber pada naskah-naskah kuno untuk menentukan keaslian, bentuk autentik dan makna yang terkandung dalam naskah itu.

Ciri khas dan tujuan  Filologi yaitu :
1.  Mengungkapkan gambaran naskah dari segi fisik dan isinya.
2.  Mengemukakan persamaan dan perbedaan antarnaskah yang berbeda.
3.  Menjelaskan pertalian antar naskah.
4.  Menguraikan fungsi isi, cerita, dan fungsi teks.
5  Menyajiakan suntingan teks yang mendekati teks asli, autoritatif, bersih dari kesalahan untuk keperluan penelitian dalm berbagai bidang ilmu(sastra, bahasa, filsafat).
6. Menyajikan terjemahan hasil suntingan teks, tullisan,dan bahasa yang mudah dipahami masyarakat luas.


2.    Jenis-Jenis Filologi 

    Filologi terbagi menjadi dua yaitu Kadikologi dan Tekstologi .
1.    Kadikologi
           Istilah kodikologi berasal dari kata Latin ‘codex’ (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codies’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’–bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi mengatakan kata ’caudex’ atau ‘codex’ dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata ‘codex’ kemudian di berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah.
         Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah kodikologi (codicologie) diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani, Alphonse Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Seprieure, Paris, pada bulan Februari 1944. Akan tetapi istilah ini baru terkenal pada tahun 1949 ketika karyanya, ‘Les Manuscrits’ diterbitkan pertama kali pada tahun tersebut. Dain sendiri mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Dain juga menegaskan walaupun kata kodikologi itu baru, ilmu kodikologinya sendiri bukanlah hal yang baru. Selanjutnya Dain juga mengatakan bahwa tugas dan “daerah” kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan-penggunaan naskah itu.

2.    Tekstologi
         Secara etimologis, Tekstologi terdiri atas dua kata yaitu teks dan logi, yang berarti ilmu tentang teks. Tekstologi adalah bagian dari filologi yang berusaha mengkaji teks yang terkandung dalam naskah-naskah kuno. Teks dalam naskah kuno sarat dengan nilai-nilai luhur ajaran nenek moyang.
Tekstologi ialah ilmu yang mempelajari seluk beluk dalam teks meliputi meneliti penjelmaan dan penurunan teks sebuah karya sastra, penafsiran, dan pemahamannya. Dengan menyelidiki sejarah teks suatu karya.


B.    FOKLOR

1.    Pengertian Foklor
           Folklor terdiri dari dua kata, yaitu folk dan lore. Folk berarti kolektif, dan lore artinya adat. Menurut Danandjaja folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal itu antar lain: warna kulit yang sama, bahasa yang sama, bentuk rambut yang sama, mata yang sama, taraf pendidikan byang sana, dan agama yang sama. Lore adalah tradisi yang diwariskan turun temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (Dundes dalam Danandjaja,1994 : 1)
         Rusyana (1978: 1) folklor adalah merupakan bagian dari persendian ceritera yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat. Sedangkan menurut pendapat Iskar dalam H.U. Pikiran Rakyat (22-Januari-1996) folklor adalah kajian kebudayaan rakyat jelata baik unsur materi maupun unsur non-materinya. Kajian tersebut kepada masalah kepercayaan rakyat, adat kebiasaan, pengetahuan rakyat, bahasa rakyat (dialek), kesusastraan rakyat, nyanyian dan musik rakyat, tarian dan drama rakyat, kesenian rakyat, serta pakaian rakyat.

 2. Ciri-ciri Folklor
      Kedudukan folklor dengan kebudayaan lainnya tentu saja berbeda, karena folklor memiliki karakteristik atau ciri tersendiri. Menurut pendapat Danandjaja (1997: 3),
           Ciri-ciri pengenal utama pada folklor bisa dirumuskan sebagai berikut:
1. Penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut.
2. Folklor bersifat tradisional, yakni disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar.
3.  Folklor ada (exis) dalam versi-versi bahkan varian-varian yang berbeda. Hal ini diakibatkan oleh cara penyebarannya dari mulut ke mulut (lisan), biasanya bukan melalui cetakan atau rekaman, sehingga oleh proses lupa diri manusia atau proses interpolasi (interpolation).
4.  Folklor bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi.
5. Folkor biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola, dan selalu menggunakan kata-kata klise.
6. Folklor mempunyai kegunaan sebagai alat pendidik, pelipur lara, protes sosial, dan proyeksi keinginan terpendam.
7. Folklor bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai logika umum. Ciri pengenalan ini terutama berlaku bagi folklor lisan dan sebagian lisan.
8. Folklor menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu. Hal ini sudah tentu diakibatkan karena penciptanya yang pertama sudah tidak diketahui lagi, sehingga setiap anggota kolektif yang bersangkutan merasa memilikinya.
Folklor pada umumnya bersifar polos dan lugu, sehingga seringkali kelihatannya kasar, terlalu spontan. Hal ini dapat dimengerti apabila mengingat bahwa banyak folklor merupakan proyeksi emosi manusia yang paling jujur manisfestasinya.

C.    JENIS-JENIS FOKLOR

Secara garis besar Foklor terbagi dalam tiga kelompok besar yaitu:
1.    Folklor Lisan (Verval Folklore)
        Menurut pendapat Rusyana (1976) folklor lisan atau sastra lisan mempunyai kemungkinan untuk berperanan sebagai kekayaan budaya khususnya kekayaan sastra; sebagai modal apresiasi sastra sebab sastra lisan telah membimbing anggota masyarakat ke arah apresiasi dan pemahaman gagasan dan peristiwa puitik berdasarkan praktek yang telah menjadi tradisi selama berabad-abad; sebagai dasar komunikasi antara pencipta dan masyarakat dalam arti ciptaan yang berdasarkan sastra lisan akan lebih mudah digauli sebab ada unsurnya yang sudah dikenal oleh masyarakat.

   Foklor lisan terdiri atas  Prosa lama dan puisi lama
1.  Prosa Lama  merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat.  Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:

1)    Hikayat,
       Berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, Si Pitung, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

2)    Sejarah (tambo)
     Sejarah  adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

3)    Kisah
      Kisah adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

4)    Dongeng
      Dongeng  adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:
a. Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Beberapa contoh fabel, adalah: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung Bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dll.
b. Mite (Mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib. Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dll.
c. Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dll.
d. Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dll.
e. Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.
f. Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dll.

5) Cerita berbingkai
         Cerita berbingkai adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam.

2.    Puisi Lama
       Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.
      Aturan- aturan itu antara lain :
         1. Jumlah kata dalam 1 baris
         2. Jumlah baris dalam 1 bait
         3. Persajakan (rima)
         4. Banyak suku kata tiap baris
          5. Irama

 Macam-macam puisi lama

1.    Mantra
          Mantra adalah puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
  Ciri-ciri mantra
   1)    Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd,abcde-abcde
    2)    Bersifat lisan, sakti/ magis
    3)    Adanya perulangan
    4)    Metafora merupakan unsur penting
    5)    Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius.
    6)    Lebih bebas dibandingkan puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.

    Contoh:
              Assalammu’alaikum putri satulung besar
              Yang beralun berilir simayang
              Mari kecil, kemari
              Aku menyanggul rambutmu
              Aku membawa sadap gading
              Akan membasuh mukamu

2.Gurindam
         Gurindam  adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
     Ciri-ciri gurindam:
     1). Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.
     2) Berasal dari Tamil (India)
     3) Baris pertama berisi semacam soal, masalah atau perjanjian.
     4) baris kedua berisi jawaban, akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama. 
                Contoh :
                Kurang pikir kurang siasat (a)
               Tentu dirimu akan tersesat (a)
               Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
                Bagai rumah tiada bertiang ( b )
                Jika suami tiada berhati lurus ( c )
                Istri pun kelak menjadi kurus ( c )

3.    Syair
          Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.
    Ciri - ciri syair :
    a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
    b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
    c. Bersajak a – a – a – a
    d. Isi semua tidak ada sampiran
    e. Berasal dari Arab

Contoh :
             Pada zaman dahulu kala (a)
             Tersebutlah sebuah cerita (a)
             Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
             Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
             Negeri bernama Pasir Luhur (a)
             Tanahnya luas lagi subur (a)
             Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
             Rukun raharja tiada terukur (a)
             Raja bernama Darmalaksana (a)
             Tampan rupawan elok parasnya (a)
             Adil dan jujur penuh wibawa (a)
             Gagah perkasa tiada tandingnya (a)


4.    Pantun
        Pantun  adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
Ciri – ciri pantun :
1.    Setiap bait terdiri 4 baris
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi
4. Bersajak a – b – a – b
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6. Berasal dari Melayu (Indonesia)

Jenis – jenis Pantun, antara lain :

     1. Pantun Adat
                  Menanam kelapa di pulau Bukum Tinggi
                  sedepa sudah berbuah
                  Adat bermula dengan hukum
                  Hukum bersandar di Kitabullah

     2. Pantun Agama
             Banyak bulan perkara bulan
             Tidak semulia bulan puasa
             Banyak tuhan perkara tuhan
             Tidak semulia Tuhan Yang Esa

3.Pantun Budi
                  Bunga cina diatas batu
                  Daunnya lepas kedalam ruang
                 Adat budaya tidak berlaku
                  Sebabnya emas budi terbuang

4.Pantun Jenaka
       Elok berjalan kota tua
       Kiri kanan berbatang sepat
       Elok berbini orang tua
       Perut kenyang ajaran dapat

            5. Pantun Anak-anak
                   Elok rupanya si kumbang jati
                  Dibawa itik pulang petang
                  Tidak terkata besar hati
                   Melihat ibu sudah datang

     Luasnya persebaran pantun di nusantara sehingga jumlah dan jenis  pantun yang dihasilkan sudah tidak dapat dihitung lagi.

5.    Karmina
       Karmina atau pantun kilat
       Ciri- ciri karmina
1)    Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan
2)    Bersajak aa-aa,aa-bb
3)    Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
4)    Tidak memiliki sampiran hanya berisakan isi.
5)    Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
Contoh:
Sudah gaharu, cendana pula
Sudah tahu bertanya pula

6.    Seloka
    Seloka atau pantun berikat.
     Ciri-ciri seloka yaitu;
1. Berbaris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait kedua.
2.  Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait ketiga. Dan seterusnya.
3.   Ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair.
4.   Namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
  Contoh :
                      Lurus jalan ke Payakumbuh,
                      Kayu jati bertimbal jalan
                      Di mana hati tak kan rusuh,
                      Ibu mati bapak berjalan   
 
7.    Talibun
       Talibun atau pantun genap.
        Ciri –ciri talibun yaitu:
          1)     Jumalah barisnya lebih dari empat baris, tetap harus genap misalnya 6, 8, 10,..
      2)  Jika satu bait berisi enam baris maka susunannya tiga baris merupakan sampiran dan tiga          baris lainnya merupan isi. Dan seterusnya.
          3)    Apabila barisnya ada enam baris maka sajaknya a-b-c-a-b-c

Contoh :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
        Kalau anak pergi berjalan
        Ibu cari sanak pun cari isi
        Induk semang cari dahulu

8.    Bidal
       Bidal adalah cara berbicara dengan menggunakan bahasa kias. Bidal terdiri dari beberapa macam, diantaranya:
a.    Pepatah
      Pepatah adalah suatu peri bahasa yang menggunakan bahasa kias dengan maksud mematahkan ucapan orang lain atau untuk menasehati  orang lain.
Contoh :  Malu bertanya sesat di jalan
                Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.

b.    Tamsil
    Tamsil (ibarat) adalah suatu peribahasa yang berusaha memberikan penjelasan dengan perumpamaan dengan maksud menyindir, menasehati, atau memperingati seseorang yang dianggap tidak benar.
Contoh :  Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.
                Keras-keras kersik, kena air lemut juga.

c.    Kiasan
       Kiasan adalah ungkapan tertentu untuk menyampaikan malsud yang sebenarnya kepada seseorang karena sifat, karakter, atau keadaan tubuh yang dimilikinya. Kata-kata sebutan yang digunakan dengan cara tersebut dinamakan bahasa kiasan.
Contoh :  Makan tangan = memperoleh keuntungan besar
                 Buah hati       = kekasih atau orang yang sangat dicintai.

d.    Perumpamaan
       Perumpamaan adalah suatu peribahasa yang digunakan seseorang dengan cara membandingkan suatu keadaan atau tingkah laku seseorang dengan keadaan alam, benda, atau makhluk alam semesta.
Contoh : Seperti anjing makan tulang.
                Seperti durian dengan mentimun

e.    Pameo
Pameo adalah suatu peribahasa yang digunakan untuk berolok-olok, menyindir atau mengejek seseorang atau sesuatu keadaan.
Contoh :
 1.  Ladang padang, orang betawi
   Maksunya berlagak seperti orang padang padahal dia orang  betawi  atau orang betawi yang berlagak kepadang-padangan.
2.  Bual anak Deli
   Maksudnya membual seperti membualnya daerah Deli terus menerus, namun isinya tidak bermakna.


2. Folklor Setengah Lisan (Partly Verbal Folklore)

1    Kepercayaan dan tahayul.
2.   Permainan (kaulinan) rakyat dan hiburan-hiburan rakyat.
3.   Drama rakyat Seperti: wayang golek, sandiwara, reog, calung, longser, banjet, ubrug, dll.
4.   Tari Seperti: tari tayub, tari keurseus, tari ronggeng gunung, tari topeng, dll.
5. Adat atau tradisi, Contohnya: tradisi upacara menanam padi, tradisi orang hamil hingga malahirkan, tradisi pernikahan, tradisi khitanan, tradisi membangun rumah, tradisi ruatan, dll
6. Pesta-pesta rakyat. Contohnya: pesta rakyat kawaluan Baduy, pesta rakyat ngalaksa di Rancaklong dan Baduy, pesta rakyat seba laut di pesisir pantai selatan, pesta rakyat kawin tebu di Majalengka, pesta rakyat seren taun di Ciptarasa dan Baduy, pesta rakyat mubur sura di Rancakalong.


3. Folklor Bukan Lisan (Nonverba Folklore)
           Folklor bukan lisan dapat dibagi menjadi dua golongan/bagian, yaitu: Folklor yang materiil, dan Folklor yang bukan materiil.

a. Folklor Materil
1) Arsitektur rakyat. Seperti: bentuk julang ngapak, tagog anjing, sontog, duduk jandela, dll.
2) Seni kerajinan tangan. Seperti: seni batik, anyaman, patung, ukiran, bangunan, dll.
3) Pakaian dan perhiasan. Seperti: Kebaya, baju kampret, totopong, bendo, pendok, giwang, penitik,   kalung, gengge, siger, mahkuta, kelom geulis, payung, dll.
4) Obat-obat rakyat. Seperti: jamu-jamuan, daun-daunan, kulit pohon, buah, getah, dan jampe-jampe.
5) Makanan dan minuman. Seperti: awug, tumpeng, puncakmanik, dupi, lontong, ketupat, angleng, wajit, dodol, kolotong, opak, ranginang, ulen, liwet, kueh cuhcur, surabi, bakakak, dadar gulung, aliagrem, dan minuman: lahang, wedang, bajigur, bandrek, dll.
6) Alat-alat musik. Seperti: kacapi, suling, angklung, calung, dogdog, kendang, gambang, rebab, celempung, terebang, tarompet, dll.
7) Peralatan dan senjata. Seperti: rumah tanga; nyiru, dingkul, ayakan, sirib, dulang, dll. Alat pertanian: pacul, parang, wuluku, garu, caplakan, kored, congrang, patik, dekol, balicong, bedog, peso raut, peso rajang, arit, dll. Senjata: tombak, paser, ketepel, sumpit, badi, keris, dll.
8) Mainan. Seperti: ucing sumput, pris-prisan, engkle-engklean, sondah, sapintrong, congklak, damdaman, kasti, langlayangan, papanggalan, luncat galah, kukudaan, dll.

b. Folklor Bukan Materil

1) Bahasa isyrat (gesture), Seperti: bersiul, mengacungkan jempol, mengedipkan mata, melambaikan tangan, mengangguk, menggeleng, mengepalkan tangan, dll.
2) Laras music Seperti: laras salendro, laras pelog, laras dedegungan, laras madenda, dll.

D.    DRAMA

     Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa Yunani), sedangkan dramtaik  adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalam suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.
  Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu
1. Drama baru / drama modern
        Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada      masyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.
2.   Drama lama / drama klasik
         Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istana atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.
Contoh :
Wayang adalah drama yang pemainnya boneka wayang, baik wayang kulit, wayang orang dan lain sebagainya.




Puisi Persembahan Dalam Syair Menggapai Cita-Cita & Impian Orang tua

Karya Ismira

Ketiadaan dan Kekurangan
Bukanlah Menjadi Penghalang Buatnya untuk tetap berjuang
membantu kami dalam menimbah ilmu..

Ayah, Ibu...
Engkau Pejuang Sejati
Walau Terik Matahari Membakar Kulitmu
Walau Hujan Mengguyur Tubuhmu
Engkau Takkenal lelah dan terus Berjuang untuk Kami
Agar Tetap Melanjutkan Pendidikan hingga keperguruan tinggi..

Ayah, Ibu.....
Jasamu Takkan Pernah Kami Lupakan
Tak Sedikit Air Mata dan Keringat yang Bercucuran demi Kami
Agar Tetap Menyelesaikan Studi....

Ayah, Ibu ....
Hari ini semua telah terjawab
Apa yang telah Engkau Cita-Citakan dan Impikan Buat Kami
Telah Kami Raih dan Wujudkan Untuk Kalian...

Ayah, Ibu...
Kami Bangga Memiliki Orang Tua Seperti Kalian
Walau di Usiamu yang Senja Tetap Senyum dan Peduli
Terhadap Nasib dan Pendidikan Kami
Terima kasih Ayah,
Terima kasih Ibu
Engkau adalah Pahlawan hidup dan pendidikan Buat kami semua....

Jumat, 25 Mei 2012

Kumpulan Sastra Lama Muna

Kumpulan Sastra Lama Muna   

    Oleh: Ismira Yanti (A1D1 09 039)

1.    Pantun
     1)    Pantun muda-mudi               
             Mafusau sesau-sau
             Pughuno tane tampano
             Ane ihintu megau-gau
             Dopobisara samotompano

                     2)    Pantun anak-anak
                            Aekasuu kenta buntati
                            Tanokona wandiu-diu
                            Aworada dopokamunti
                            Wora anahi dopogolu
  
        3)    Pantun jenaka
               Akalamo temasalili
               Apansuru tekambo-kamba
              Awulemo tigho alili
                Mina awora kalambe komba

                               4)    Pantun nasehat
                                        Sia kadea bhe ngkahumalo
                                        Dokalaghoo ngkaese-ese
                                        Ladhangka ane omoghosa lalo
                                        Bhe daomoolifiko paise

2.    Syair
         •    Akalamo we mawasangka
               Pansuru dua we kambaara
               Kotughu dua mbadja sumangka
               Pada dolera suli dombara
                                •     Aeuta kapaea
                                       Kabhilahano eda tahunda
                                       Kalabhihano eda kapea
                                       Rampano sintu pada ohunda
         •     Amonimo te kadhariha
                Pansuru dua tendo ansadha
                Wangkuni koemo nsadha
                Inodi padamo agha

3.    Mantra
           •    Mantra pada saaat memutuskan benang
                  Saruna-runa
                  Batuna rasulullah
                   Bismillah

            •    Mantra kaasi yang digunakan sebelum tidur.
                   Maimo takoeaka
                   Maimo tabhanguaka
                  Takole taroamia
                  Tabhangu taroamia
                  Wasimbali omora hulaku ini anu
                  Mak mombaka moma
                  Maka omiru molodho
                  Bismillah

              •   Mantra kaasi yang digunakan pada saat turun tangga.
                     Aleko
                    Abheroko
                    Sembali paise omangkafi iamu bhe amamu
                     Maka paise omangkafi kanau
                     Sembali paise omaasi inamu
                     Maka paise omaasi kanau
                     Bismillah

4.    Karmina atau pantun kilat
          •    ‘Okalabhino-okalabhino bhela laloku’
                 ‘Bhara amafa-amafaangkomu

5.    Bidal
         •    Anahi amaitu neghawa
                Bhala bheka
         •    Suanano nosape, kemano neala


6.    Talibun atau Kantola
         Talibun dalam bahasa Muna disebut kantola. Kantola adalah salah satu bentuk kesenian masyarakat muna yang sangat tinggi dan digemari oleh masyarakat Muna dan jaya pada masanya. Kantola adalah sejenis permainan tradisional , dimana para  pemainnya berdiri berhadapan antara pria dan wanita. Mereka berbalas pantun yang di awali dengan irama lagu ruuruunta atau ruuruuntetea (Yock Fang,1993-1995).
Kantola di daerah Muna ada yang genap barisnya dan ada yang ganjil. Jadi syair kantola tidak mementingkan baris tetapi tergantung si pelaku dan bisa dikatakan sebagai talibun yaitu pantun yang jumlah barisnya lebih panjang.

Contoh talibun atau kantola ‘
               Kowala te wakaoma nsumolo-nsoleidi
               Mombeleane kamponisa
               Mekataa-taa wangkuno
              Bhahi kawu sala-sala, sala-sala nokooe
               Mulugho kampealai aongkadoghoo hae
               Maka ane kowala kanae
               Kilateno kakebhano nohamai-maianemo
              Ane mpuu radhaki
              Dukuno lalono mbadha
              Ngkonau aghumawae


Keterangan:
         Di daerah Muna, penulis tidak menemukan puisi lama jenis gurindam dan seloka. Hal ini karena dalam kebudayaan Muna masyarakata lebih banyak menggunaakan sastra lisan jenis pantun (kabanti), mantra dan bidal atau yang lebih dikenal dengan sebutan syair kantola atau nyanyian kantola.Kabanti atau pantun ini masih sering digunakan terutama dalam lagu-lagu yang bernafaskan gambus. Sedangkan mantra hingga kini masih digunakan sebab suku Muna menganggap mantra mengandung kekuatan magis yang dapat melindungi diri. Lain halnya, dengan kantola ini memang sudah jarang sebab hanya digunakan pada acara-acara tertentu.


******************************************************************************
A.    PROSA LAMA 
 
          Di daerah Muna banyak sekali cerita rakyat tetapi hanya sebagian kecil dari cerita-cerita tersebut yang dibukukan. Sedangkan cerita-cerita lainnya hingga saat ini tetap menjadi cerita yang diceritrakan secara turun-temurun.
Beberapa cerita rakya Muna yang termasuk dalam prosa lama yaitu:

1.    Hikayat Tula-Tulano Ratono Fitu Ghulu Bhidhadhari
 
      Anaghaini te wuna dosampumo fitu ghulu bhidhahdari ne wiwino laa fotuna rete. Wakutuno dosampu, omputo wuna ladhe Husaini (amputa sangia) nando  nekadiu we laa anagha. Bhidhadhari ii miina damandehaane bhe mekadiono ne laa kasampuhana maitu. Nopandhanda kaawu dosampu omputo sangia kansuru nekakope welo karumbi. O bhidhadhari kansuru delembisi bhadhunda maka dekadiu. Pada dekadiu da sukoma tora pakeainda dasumuli te kaltehanda. Gara noombamo omputa sangia nomaiga ne katebunihana, nekansuru we wutonda bhidhadhari anagha maka neintara semie. Nohisaramo omputa sangia, ihintu koemo hora, rampana soaembaliangko mieno lambuku. Lahae notuduko asampu ne liwuku ini. Aesalo maafu, ane mobhalakanau lalo, runsa kanaumo ahumorogho. Inadi paenambali miene lainbumu rampaghano miina akokoro pede manusia bhainda. Ane orunsakanau madaho aesaloangko nekakawasa namaangko anahi samokesano pede inodi. Nofetingke tolano wamba bhidhadhari aenaagha kansuru norunsaeline nahumoro. Omputo sangia momponamo nogaa taaka miina nokoana.
       Seha-sehae kaawu omputa sangia anarobhineno nobhalamo taghino. Salentehano anahi anaagha kapasoleno pasae daano bhidhadhari karakono we laa. Taka anhi anaagha miina dua nokokoro. Anahi anaagha nofoneane wadhe Kamomono Kamba. Ghuluhano sebera manusia sebhera tora nembali ghule. Anea neano adhe wuna, wadhe kamomono kamba nohende nembali kalambe mongkera pedamo dua adhe wuna nembali moghane mpavale.
     Ompute sangia anahi robhine bhe ana moghanenda dotekabhalae wela kalalaesano lalanda. Dhobhari anainoghane tumangkuno wengkaretenda omputa sangia somefenagho tungguno  cakarete. Nohalimo lalono omputa sangia sampahano nopandehaane kalambeno miina nokokoro peda kalambe seegahano. Omputa sangia nomaintemo kambano. Peda kaaawu anaagha notolamo nekakawasa sia-siamo ananda anaitu panaewanta umurundo. Nasehasehae nosakimo anaagha meghanehi itigho kumalano nobhatala mo lalenda wadhe kamomono kamba do koburue te wadalau (wasolangka).
      Somateno wedha kamomono kamba nomoisamo adhe wuna. Adhe wuna ini miina intigho nolimba wengkaroto. Rampahano noambanogho wutono. Welambu ntigo nosongku nekalambehi melateno welo lambo nofetingke kaawu pede anaagha diuna adhe wuna, omputa sanngia nobhasimo ponggawa hina doneatigho namolimba adhe wuna neliwuno wuna. Dokalamo dempali-mpaline adhe wuna te wiwina tehino mantobua bhe dopobhangka-bhangka. Peda anaagha adhe wuna doghuluane wololia newiwino tehi wakorumba. Lia anaahga nolona te kulisuru. Nofetingke bhiritano adhe wuna noghulu te maluku nekansuru te seram, maka ne late te kabhawono anaahga. 

2.    Tula-Tula Beteno Ne Tombula

       Tandi Abe anano raja luwu. Tandi Abe sewakutua tano balamo taghino. Rato defenae Raja Luwu ambano mina namandehanea moghane lahaeno mo balano taghino Tandi Abe. Niworano kaawu Tandi Abe saje o kila, maka pasaemo bersetubuhnoa, taka mina nae wora hula.
       Akhirino Raja Luwu nombano. Tandi Abe dofolapae we tehi. Madaho namate nofumae kadadino tehi dofosawie ne palangga. Waktu nokala nobero-bero kapusulino. Rakyati nobelaane lalo sampe doangkafie donono deowa be katokano kampanaha sepasa be kasongkono sere kaforoghuha do sawi ne palangga. Seghonu no rato se wolio, limaghonu no rato we loghiya nokonandono lima ghonuno.
Pada aitu do worae we napa me fonotino patujundoa ingka o bangka takapedahae ingka ne ngkonu kabilanga katoa. Dokala doghondae ini gara ingka o katoa daano be mieno we lalo nobala taghino. Akhirino nokolelemo tendo kolakino wemelai. Kolakino wamelai dokonae dua mojino lele. Tae lambu balano mojino lele notududa dae forato lele notududa dae forato mie be La Katumende.
    Kolakino wamelai notududa dasumampu daghumondoe, dakumampie, damampe teini. Rato dakumala damalae doangkamo detandoane tumbula so kasughuno. Dalako koronoa tumbla nofokoadede” ghagheku” dolakoe labuntano nofokoadede “labuntaku”  dolakoe tegholeno nofokoadede “fotuku”, taka mina dae wora hulano mie. Akhirino tade paksamo dolakoe so kasuhgu mhalahemo ingka nadae wora mie ingka ta’o suara, pada aitu dokalonemo.
      Rato kaawu dosughuanemo Tandi Abe. Pada aitu doampe te lambu balano dopoghawao kolakino Wamelai. Dokolambuemo Tandi Abe. Wolo kolambu se alo,ora alo, tane alo-alomo dua kabilahano korondoha tado wora mina be ghotia, orr tado woramo mina be oe. Tado fetingkemo me kadiuno taka mina dae wora mie. Akhirino sewakutua do solai’e bahi ohae. Niworando o kila, nokokila lagi walo kolambu Tandi Abe, nomaigho ne kasuhgu tumbula niteindo te ghahu.
       Dengkoramo kaawu mie bari doghondoemo bahi ohae kokilano maitu, ingka kabilahano ghoti be oe tano wolomo. Dongkoranemo liwu mate-matemo dengkoranemo nofolahirimo wutono, maka netepandahaghao anoa moghaneno Tandi Abe, Zulzaman neano. Neano te wuna beteno ne tombula, mbalahaemo sajea no maighono we losono tombula. Anando rodua, anondo balano neano Runtu Wulou, anando seiseno neano Sugi Patola.
       Rato rafulu taghu kaawu, domusaywaramo be Tandi Abe, nofenamo bahi namangku namoni te luwu. Nofenamo Runtu Wulou” ae afa nagha te luwu” Tandi Abe “ omoni oghumando a wamu te luwubahi nandoe, Runtu Wulou” barangka o maksa kanau omu asumakala”. Runtu Wulou nohundamo nomoni te Luwu , dosabangkae dodidima dopopa boseno, semie sabangkano neano La Tosari.
Noratomu te Luwu ne tembamo pada ne tembe nofitingkemo Raja Luwu, maka netududamo mie dasumampu daghumondoe bahai ohaeno we napa. Dorato kaawu mie, doforatomo.Runtu Wulou nobisaramo” insaidi me tembano”. Nobisaramo tora mieno Raja Luwu “ kumamo ampa nahamai itu?”. Nobisaramo patudjuno Runtu Wulou ne mie aitu bahwa insaidi ini tamoni dua tamoghawao Raja Luwu. Oo..barangka dopowaanamu itua, nobisaramo tora Runtu Woluo” runsahano paghindulu omomu , tamburumai insaidi.
          Nampahano dorato katudu, andoa doratomo dua be La Tosari. Pada aitu nefenadamo.Raja luwu “ omaighomu ampa nahamai?, ambano Runtu Wulou” maighono we witeno wuna. Nofenaemo Raja Luwu patuju no, ambono Runtu Wulou “ tae mpali-mpali kaawu dua”.Nopadamu kaawu kawulendo de salomo doforoghu. Pada aitu dealanda sere mo kesa-kesahando . Runtu Wuluo nobisaramo” paa roghua ne sere aitu idia bahi taa bala rampahano soano kaforoghuha mania itua, meala kasami kaforoghuha sigahano. Dealanemo tora, sereno no kesa tora. Runtu Wuluono bisaramo tora  “ paa roghua ne sere aitu, bata abala (rampahano). Dofendua tora dealane , mina namindaloea na roghu , be nobisara” soba meala kasami kaforoghuha sigahano bahi Pkaghua, ataune hae. No bisaramo mieno Raja’’ minamo kaforoghuha sigahano” nofetapamo Raja maka nofenae “ minamo bahi kaforoghuha sigahano. Ambano nando taka nomponamo dopoke. Wakutu anamu nifokala we tehi. Raja Luwu “ alaghaomo kaforoghuha aitu.Doalanemo sere anagha, maka doghomesie, dofokatie-tialie, maka dufoteigho oe, maka dowaane Runtu Wulou. Runtu Wulou noforoghumo pada noforoghu nealiane kasongkono sere niowano Tandi Abe rafulu taghu labino. Maka nosongkoghau.
          Pada aitu aitu Raja Luwu nefolimbamo kampanaha. Runtu Wulou no bisaramo , “ na taepana ne itu “. Rampahano aitukaepanahando kamuokula”. Pada aitu dofolimba kampanaha sigahano, Runru Wulou saje nokiida rampahano kampanaha amaitu kampanahando mie balano (kamukula). Tolu paku kaawu tora pada aitu nofetamo Raja Luwu” minamo gara itu kampanaha sighano?, ambani nando kolaki, taka dopakea rafulu taghu, nando be anando nifokala we tehi.nobisaramo Raja Luwu waghaomo aitu. Doalamo tora aitu, maka doghomesi fekatia-tialie, pada aitu dofokisinihiane katokano kamapanaha, gili , karoo, ghefi, kajambiri, bea, tabako. Pada aitu dowanedaamu Runtu Wulou dohundamo de pana. Pada de pana notei ane tora kasongkono . kabilahanda pada doukurue. Raja Luwu nafenando tora” sa katughono hintumu ini maghono nahamai? Ambano Runtu Lulou “ maghono we witeno wuna. Maka lahae kamukulamu?, dokonae sangke palangga. Kamukulamo moghane? Ambano dokonae beteno ne tombula. Raja Luwu” neano sigahano lahae? No bisara tora Runtu Wulou “ mina naenturu dokonae, taka afitingkea neano Baizulzaman. Ane komukulamo robine? Dokonae Tandi Abe. Pada aitu dopokakopomu, ambano Raja Luwu “ ingka awaku gara hintiinia. Aitu melatemo teini. Inodi akosakimo kuasaku inia amotorima angkoema ne hintu. Pada aitu Runtu Wulou nembali Raja Luwu.

3.    Kisah Tula-Tulano Saidhi Rabba

     Dhamani wawono, nandomo katudu maighono we witeno Arabu dorudua sye’mbali fofogurughono dhalangino kaIslamu maananoa ne witeno wuna ini. Neando Sye’ anagha, semie neano Saidhi Rabba, semie neano ne Wolio inia dokonae Bhatua poaro. Kandiho dokonae Bhatua Poaro rampano noere maitu noangka bhatini. Dhadi neano sakutughuhano we witeno arabu dokonae Abudhu Wahidhi.
Dameremo kaawu Sye’ maitu dopobhotumo deki. Aitu welo kabhotundo maitu, konae tana siwa wula siwa gholeo dapoghawamo we witeno Wolio. Dhadi nofenamo Saidhi Rabba ini, bhahi dahae sodapotandaigho mada kaawu. “ aitu sadapoghawa kaawu, aekabusaki hulamu, sa omeena kanau: hintumu itu sabhangka? Amohundangko kereku, maananoa indimo itu.”
Pada kaawu dobhotu nagha doeremo. Saidhi Rabba noerea nosawi nekapusuli, rato Abdhu Wahidhi nomate.
     Dhadi welo kaereno nahga Saidhi Rabba inia nope we napano Walingkabola, we napano laghontoghe, welokamutugha we liwu ngkodau. Nenaghamo bha-bhano dhalano kaislamu ne Wuna ini. Nofoguruandamo kaIslamu miehino aghontoghe ini, fogurunda alahano aendo bhe alano wakutu. Dopokapo-kapoimo dua maanano mieni liwu mbali defoere masigi so kasambahayaha liwu.
Dahadi wakutu anagha tae wuna noparintae nikonando Sangia Latugho. Omputo Sangia Latugho. Dahadi, nodhalano kaislamu ne Laghontoghe ini, tae Wuna minaho damandehanea. Kawu anagha Sangia Latugho ini nopoghaumo, saolonoa mina bhe kakaeno Saidhi Rabba ini, gara nando dua kakaeno.
      Dadhi noambanoanemo dua pogauno Sangia Latugho ini Saidhi Rabba. “ ane peda anagha Sangia, meala oe akumadiugho mieno lambumu aini”. Dealanemo oe Saidhi Rabba ini mbali nokadiu mieno lambno Sangia ini. Pada kaawu nokadiue maitu mieno lambuno Sangia inia, kansuru notibhali pasaeno kalambe kabua-bua.
      Pada anagha nebasandamo dhoa.”aitu ghoghondo kanau Sangia. Tontokanau bhahi nehamai noturu luuku. Barangkaa batumuru ne suanaku, naseturu mananoa so moghane anamu. Barangka notumuru korawetahae, maanano okoanagho kolopo, moghane bhe robhine”. Dadhi wakutu notafakuru nebasa dhoa nagha Saidhi Rabba inia, notontoe Sangia Latugho ini nopoangka noturu luuno matano Saidhi Rabba ini, ne suanano. Aitu latugho ini. Nopohaumo Sangia Latugho ini, konae nesuana tumuruno, ratunu nopoangka.
      Nopogaumo Saidhi Rabba ini: aitu pedamo nipogaughoku anini, dhadi mada kaawu anaomu omoghane darudua. Aitu akumonadhomo idi neando. Dahadi oisa amokonae Hasani, rato oaia amokonae Husaini.
      Dahadi nofogoruandamo dua kaIslamu Saidhi Rabba ini tae Wuna. Nofoguruandamo ngadhi maanano, sambahaya, bhari-baharie dhalangino ka Islamu nofoguruaanda. Defoeremo dua masigi te Wuna maitu. Norato kaawu tantunowakutuno, maanano kapodhandihano bhe Abudhu Wahidhi ini, tana segholeo Saidhi Rabba inia eremo no Wolia so napoghawagho bhe Abhudhu Wahidhi ini.
Maomo dua anagha, nerunsa nopoghau Saidhi Rabba inia, konae nifogurughono ini maananoa kulino kaawu kaIslamu, mada kaawu nando semie Sye’ tora sabhangkano sorumatono we Wuna ini somoguruanda ihino kaIslamu. Nipatudhughonomo Abudhu Wahidhi.

4.    Legenda Kampo Motonuno

            Dhamani wawono ne liwu wuna nomai omiehi, kabarindo nando tolufulo lambu be dhe rato we sorirno Mantabua neano Meleura. Andoa itu domai be bangkano semi-semie. Ampa karatono andoa we soririno kaghotia Meleura andoa dekansuru dopoghawagho kolakino liwu Mantobua. Daefenada kolakino liwu” hintuumu ini lahae be omaighomo ne hamai ?”, miehi moratono dobalomo“ insaidi ini mieno wadjo tipandehao kalateha mani,nehamai bekadadiha mani neitu kalateha mani dua,nentela we soririno tehi kansuru. Ampahi aitu ohamba-hamaba kasami oparampo we tehi tighomepongkono we tehi. Sababuno, insaidi tafilei we kaleteha  manibhenina depandahane ampa aitu insaidi tarato we kaghotia Meleura. Maka insaidi tamai so taemealai sosonomo insaidi daehunda kasami taelate we kaghotia liwu aini. Kolakino liwu Mantobua nopoghawu “ naembali tamaka hintumu we kaghotia liwu Mantabua aini , taka ihintumu panambali opoghatimu be miehi welo liwu aini, manano tabea dapotulu-tulumi so paralu welo liwu aini. Ihintu meangkafie”. Miehino wadjo itu dobalomo “ ampahi aitu insaidi pada dofotingke hamaikabisarano kolakino liwu, dadi haeno mbalino khaneano we liwu aini minabali insaidi tapoghati wutho”.” Ane pada aitu nombali bahi hintuumu melatemu neini”, wamba kolakino liwu. So katokano lambu, hintumu nombali otugho sau we kaghotia Meleura. Fetingke poghawuno kolakino liwu aitu, mieno wadjo kabaruhindo, be nofealai nasumuli we kaghotia be patudju so delate we kaghotia Meleure
         Saratono andoa we kaghotia, andoa dokalamo detugho sau we tampa sokarabuhano lambu. Ane so kahumaahando minaho nombali masalah, rampahano andoa de owa kabakhu nopataane. Toluwula andoa delate we kaghotiano Meleura, andoa padamo derabu lambu setahono so andoa Gholeo nombali wula, wula nomabali taghu, nompona-mpona khaawu andoa dua dopandehanemo degalu insuano khaaawu de kabua. Pada aitu, andoa dua domooro kapa hasilino katisando kapa domoisa. Hamai kaworando ne mie sighaano, andoa dua de sobaae ampa kaghosando andoa.
         Tampa kalatehando andoa aitu nanumando sekilo maigho kaghotia Meleura. Nesoriri tampando delate nando seghonu mataoe, nehamai miehindo liwu Mantobua daeala oe so kagauha be so kaforoguabe neitu andoa aini deala oe. Nompona kaawu ando delate we tampa itu, ando minamo dewora goti. Tamaka andoa dopotudju doghondohi kaghotia sighahano rampano minamo dotaa dadindo. Sewakutu-wakutu andoa tigho dofefena ne miehindo liwu Mantabua, sehaehadae kakodohono liwuno wuna maighono we bara bhe matanogholeo kaghotia. Noforantoda ando dokala be dekala-kala maka segholeo sealo.
           Nando suatu gholeo, andoa dethudo the popa mie so kumalano meghonono kaghotia sewetano liwu wuna bhe deowa baku ampa sokaratohando bhe kahundano kolakino liwu Mantobua. Rampano andoa minano mandehane  dokansuru kanandono maka anda dorato we kaghotia bara liwu wuna bhe dokala-kala ragholeo sealo. Mina nokadoho ampa we kalatehando dolodo, nando segonu mataoe pedamo laa dokonae “ Wula Moni” . sealo andoadelodo wekaghotia itu maka dosuli rampahano bakundo nowolomo, minamo deghawa kalateha mokesano neitu. Dorato kaawu we kalatehando andoa dobisaramo ne sabangkahindo,we kangkahando  mina deghawa we kaghotia bara liwu wuna.
Wakutu miepopano kathudu aitu dosuli, andoa doala oe we “ Wula Moni” we kaghotia bara liwu wuna so kaforoghundo dosuli we kaghotia Meleura. Oe aitu mina dofoghunsaie welo kakalahando. Andoa kansuru dohobae welo kaintehano oe kaforoghua we lambuno semie maighono katudju aitu nopokansagho bhe oeno Mantabua. Noando fokogindu,padakau oe wula moni de hobae bhe desampurue be oeno Mantabua, minanompona nokoolumo lani, minanompona tora noghusemo bhe noghosa kawea, gara wakutu aitu nando wulano gholeo. Fitu gholeo, fitu alo guse aitu minaho dua nometumpu bhe kaghosano kawea, semie nokala nofena we kolakino liwu Mantabua  guse patamentohono bhe detula-tulaane pakatandahano dorato domaigho dogondo kaghotia bara liwuno wuna, andoa de owa oekaforoghu domaigho we laa” wula moni” so bakundo doroghu we kakahando dosuli taka mina nowolo, bhe labino desampurue be oe kaforoghundo nomaigho we Mantabua aini. Padaaitu insaidi tahobae nomaimo gus be kagosano kawea.
     Pada kaawu aitu mieno wadjo itu nokopuna be nowamba-wamba be kolakino liwu, nampona-mpona  nofetingkemo birita kalatehando miehindo wadjo we kaghotia Meleura notondumo. Birita aitu norato we liwu, kolakino liwu kansuru dokala dogondoe, gara birita aitu nokotugu. Sakabarihe lambuno mieno wadjo bhe rakyatino notondu ta mie kumano meowawa birita we kolakino liwu patametunduo. Kampo metonduno aitu nombali laa dokonae motonuno . pada aitu kolakino liwuMantobua noforatoemo rakyatino panamabali dosampurue raahula oe nahha.

5.    Sage “ Kinoliwu” oleh La Ode Ngkoda

          Okinoliwu ini nokoanaghoo Adhe Anaana. Adhe Anaana ini noowa-owae inano wela ghaibu setaghu-setanga. Narato nolente segholeo omuruno nofumaamo sekontikalei, regholeo rakonti, tolugholeo tolu konti, fatogholeo fatokonti, lima gholeo lima konti, nokapo fitugholeo nofumaamo sewili. Nokapo sewula nowolomo kalei weloliwu. Pasina nofumaamo pae, semula sekadu, rawula rakadu, toluwula tolukadu. Norato setaghu nosombamo idjano bhe inano. Noforompumo raeatino liwu idhano. Notududa daetugho pughuho bhake nhalano, nopula kaawu dotudumo Adhe Anaana nakumantafee, mate-matemo nopula nokantafee Adhe Anaana. Mate-mateno dosuli doforatomo idhano ambado nomatemo Adhe Anaana. Pasino dopoalo anemo. Noratomo efituno nando de dharusu kuraani gara noratomo Adhe Anaana bhe katongkuno sauno, saratono noghoroe tewiseno kamalin idhano. Ghoti kagaundo nagha nopadae nofumaae bhe popomaano. Norato fitugholeo nosussa anemo tora idhano. Notutudamo tora dae bhalole kantusangia, maka dotutu Adhe Anaana. Nakumantafee we panda. Mate-matemo notaburie ambado namatemo Adhe Anaana. Dopoaloanemo tora ndoidhano bhe inano. Nando dedharusu kuraani noratomo tora bhe katughuno sauno. Ghoti kagaundo nopadae tora nofumae Adhe Anaana. Nopandadehaomo kaawu lalono norakue idhano neferabumo kapulu fitu rofa kawera, fitu rofa kawanta. Nerabu anemo bhakuno, fatoghonuu ghunteli. Nokoka kaawu bhakuno nokalamo.
           Fatofulgha maka nofumaaae bhakuna, nofumaae sepaku . mate-mateno norato ne seghonu liwu nopogawa ghoomu Adhe Meholotono Girisa, pasino dopoangkamo dorudua. Pasino nofeenamo Adhe Meholotono Girisa, ambano dakumala nehamai ini. Tadakumala amba Adhe Anaana sara moghane. Gara dopoghawaghoomo tora Adhe metampano Bhoru. Dokalamo tora dototolu. Gara dipoghawahgoomotora metampano Ure, pasino dokalamo dopopaa.
       Dorato ne tompano napa gara sabhangkano totoluno nabhe mandeno lumenino. Adhe metampano Ure nokoloe, Adhe Mebunatino Bhoru noghatie ne suanano, Adhe meholotono Girisa noghatie ne kemano. Pada aitu noforatodamo ambano ghondo-ghondo kaetamu teewise nobhari kenta sori. Gara doworamo kenta sori, dobisaramo okenta sori Adha Anaana. Tana pefitu rofa kakodhono nobheraemo nofetolu bhera. Notudamo daeintara sebhera semie. Gara doratomo neenapa ini nopula kamalinoa kino liwu. Adhe Anaana tobisara , okamali rumatono wa ompu dopopaa, semie sebhera deintara kenta. Pasino semieno neintara kaplu fitu metere kaware.
          Soba kalaghondo kaetaamu domaighoo naini. Gara norato dobhasida ambado nada kopaea. Dosulimo tora doforato kinoliwu, ambando mina dakumiido waompu maka miina dakopakea. Daewa andamo pakea, abhadhu , obheta pada aitu dofonimo. Afetingke bhiritano ambaamu nohali dedea bhe damowanu kamaliku ini. Umbe waompu ane bhe katulu mino kasemie-miehano. Defealamo oe ne bhalobu kapute maka noferebua, pada aitu nolikimo lambu fato-fato walae. Dasimopi-mopiloha waompu mahingga intaidi. Mate-mateno dopilo nosiduane pundano sori, mate-mateno nowula kinoliwu gara kamalinno nowanumo. Pasino nabisaramo kinoliwu , kalambeku dopopaa ambano tamepilimo so sakawimo. Gara adhe anaana nokiido, nofokawimo Adhe Meholotono Girisa. Amba Adhe Meholotono Girisa daerabu katandai, detisamo ntanga-ntanga, amba  Adhe Meholotono Girisa ane naleleu roono maighondo kanauumu aosaki itu. Dopolimba ghoomo tora tehi, gara nopula tora lambuno kinoliwu. Nofowanuemo tora Adhe Anaana, nosidu ane labuntano sori neintara Adhe Mebunano Mboru. Kinoliwu nagha anano dototolu, nofopiliemo gara Adhe Anaana nokiido nakumawi. Nofokawimo tora Adhe Mebunano Mboru. Pada nofokawi Adhe Mebunano Mboru dokalamo dorudua. Gara amba Adhe Mebunano Mboru daerabu tora katandai ontanga-ntanga, ane nalleu roono maighondo kanauumuaosaki itu. Dopolimbaghoomo tora seghono liwu gara nopula tora kamalino kinoliwu, nosidu ane fotuno soritantadeno tora. Gara okinoliwu ini dorudua tora anano. Nofopilidamo tora kinoliwu. Gara Adhe Anaana dokiido tora. Nofokawimo Adhe Metampeno Ure.    Derabumo tora katandai. Pasino nokalamo nomoisa gara noratomo seghonu liwu nowolomo mieno nopadada gurudha. Nopalikomo liwu anagha nomaigho te tompaampa we setompano, gara mieno nowolomo domate. Pasino nofonimo telolambu ne tepa ganda. Gara naando wuntano netepa ganda noratomo kamokula robhine. Aesalo mpuu dhe Anaku insaidi ini laokawuno nopada kasami gurudha. Aotehi ghoo gurudha amba Adhe Anaana. Nofwono mie gurudha nosampumo nomaigho te lani nopee te wawono sau fato mitere kalangkeno. Noalewi ane kapuluno nosampu ngkaale-ale, pasino nofonimo tora netepa ganda. Nobisaramo tora kamokula anagha ini ambano nopada kasami gurudha. Gara nolimbamo kalambe kapasole nomaigho weloganda. Adhe Anaana nosipuli. Nobisaramo kamokula angha kaasi ana rambigho wulu fotumu kolaki itu, hadaeno somu sakawimo. Napeompulu meniti nosadaramo Adhe Anaana. Soba Wa Ina meala kaeta oe ne bhalobu dokadiugho liwi ini bhahi dodadi komate-matehino. Neferebua oe maitu nokadiu liwu notanda we tompa ampa we tompa. Pasino nosulimo we lambu kafonihano wawo maka netepa tora ganda. Gara defetingkemo suarando mie, oanahi, okamokula, oanamoghane, okalambehi. Gara kalambe maighonoo weloganda nagha anano kinoliwu. Dofokawiemo be Adhe Anaana pasino Adhe Anaana dosankeemo nembali kinoliwu.
 
6.    Dongeng Jenaka” kabore-bore”

    Nando djamani wawono,ne karumbu, noando robhine be anano moghane. Anano ait dokonae Kabore-bore. Ina be anano aitu noasi ane late ne itu.
      Nando suatu gholeo, Kabore-bere nokala we karumbu, patujuno notado tando. Kabari tandono, nando ompulu maka notaghoe kosibarahae. Regholeomo, Kabore-borenokalamo nokalamo noghondo tandono. Gholeo aitu, kabore-bore be radjakino. Kabari manu kampo nekona ne tando. Kabore-bore nobaru sepaligha. Taka mina nopandehaane ghuluhano mano kampo aitu, maka nofofilehie kosibarihano manu kampo. Maka nothudue no kala we lambuno so nosalo kaforoghu ne inano, ambano “ afofileangkoe maka kamesalo foroghu ne inaku” ambano Kabore-bore ne mano kampo aitu. Taka,ahaeno mombalino manu kampo aitu nofileimo we karumbu.
        Pada aitu, Kabore-bore noforatoe inano nobari mano kampo nerako, ambano inano “ nehamimo mano kampo aitu”. Nobisaramo Kabore-bore mina nomaigha ne ini no salo kaforoghu ne hintu ?
“wah, soano pedaaitu kone, mada kaau tabeadatumapue.
        Naewine tora, Kabore-bore nokala we karumbu. Norato welo karumbu, Kabore-bore nowora lambunoani. Minamo nokofikiri wanta, kansuru nokoboe. Kosibarahae oaini aitu domamara, Kabore-bore dosiae sampe hula be fotuno no kowiwio.” Eee! Soano peda aitu kone! Tabea dakumantunue” amba ino.
          Aini tora Kabore-bore nokala tora we karumbu beneowa solo. Nakodoho nokala noworamo rusa nolodo. Maka fokarimba-rimba nokantunue. Rusa aitu nokoghendu maka notende fokarimba-rimba. Noforatoe tora aitu ne inano. “ eee, soano peda aitu kone, tabea dalumoghae” amba inano.
Gholeo madakhawu, Kabore-bore nokalamo tora we karumbu be neowa kalogha. Mina nokodoho be aitu, nomora omie dopoghiira. Mina nokofikiri ne wanta, Kabore-bore kansuru nologhae mie poghirano aitu. Dosimateha korudhuahae. Nekapunane tora ne ianano. Dadi inano nososoane podiuno anano aitu. Maka noforatoe tora panaembali mie poghirano dalumoghae tabea dopoghatianda.
“umbe!” wambano Kabore-bore.
          Newine tora, Kabore-bore nempalipali tora we karumbu. Mina mompona noworamo tora kadue doko tandu. Notifehulai wambano inano, anenewora poghirano tabea dopoghatiando. Maka. Kabore-bore napoghatiandakadue aiu. Taka noka meri-meri, Kadue aitu notamdomo Kabore-bore aitu . Dadino aitu Kabore-bore kansuru nondawhu maka nomate. Matemo Kabore-bore. 

7.    Fabel Obeka be Wulawo

     Djamani wawono nondo sehulu obeka robine taka dosunsae moghaneno ne soririno  karombu wakutu aitu obeka robine aitu nando nobala taghino. Padamo nolente anano obeka aitu minamo nokala gondohi kafumaaha, rampahano nodganie anano. Nifumaahano kampona aitu kadadi-kadadi karubu pedamo wulawo bhe manu-manu karubu moliuno  we kalatehano obeka aitu.
Padamo nobala anano obeka aitu nofekirimo, nombali hadae arunsae anaku maka akala gondohi kafumaaha we tamapa sigahano rampahano kamponaha aini minamo aeghawa kafumaaha. Wulawo minamo noliu netampano. Obeka aitu nobotuemo so gondohi kafumaaha we tamap sibahano be norunsae anono moisa ramapahano tampano aitu fekirini no amani. Pada norunsae anano nopesuamo welo liwu wakutu norondomo gholeo, noliumo ne soririno kantaruma omanuno miehi liwu patudjuno. Kansuru norakoe seghulu maka nofileimo rampahano nofehingkehimo mefebuhano omanu aitu. Obeka robine aitu dohambae miehino liwu.
    Noratomo maigho nosibu omanu, noworamo anono nomate. Pada nofumae kaalano aitu. Nokalamo gondohi haeno mepongkono anono. Ane jmepongkono kadadi karubu maka anoa moisa naepongkoe, taka ane kadadi mepongkono anono kabala maka noforatoe  ne okadue rampahano okadua wakutu aitu nombali radja. Obeka aitu nogondohi kansuru haeno mepongkono anono, wakutu aitu noworamo orusa nopunda-punda be notende. Obeka aitu kansulu noforatoe okadue  ane anabo nomate nofindahie orusa.
    Oradja noparintangie orusa rampahano noando kafaraluno sepaliha. Waktut no rato orosa nobisaramo soano anoa mepongkono anono obeka. Anoa no punda-punda be notende rampahano nando manu-manu nopatopato osahu maka konahinke okaewa norato. Oradja nobasimo tora manu-manu, manu-manu aitu nobisaramo tora soano anua mepongkano anono obeka, anoa nopatopato osau rampahano  nando ondau nopotalala we wite melangkeno dopake badju kapute konahinke  nanumando pogira-girano welo liwu.  Radja dobasiemo tora ondau.
      Radja nobisaramo noafa ondau nopotalala we melangkeno maka nobalomo ondau  rampahano obiku nogonto lambuno fekatangkatangka konahingke nando pogira-girano we liwu. oradja nobisaramo ane ondau mina nohala. Dobasiemo tora  obiku, dofenaemo noafa mengontoe lambumu fekatangkatangka, obiku nobisaramo, ambano agonto lambuku rampahano kalapiti notenbe be kaloghano konahingke nanumando pogira-girano rampahano wulalo  notende bhe nokohide-hide, nobisaramo wulalo ambano norabu peda aitu rampahano notehi obeka. Obeka nopongko kansuru maka nofuma wulawo pedamo kafemata kamukula wawawo.
Katudjuno radja nobisaramo ane norabutora pedaitu obeka  maka obeka dotorongkoe. Nobalomo obeka ohae maknano dotorongkoe ane anoa madanamatemo. Maka dotorongkoemo obeka bhe dodjaganie kansuru.  
       Patamo tolutaghu obeka   dotorongkoe maka dofolimbaemo. Wulalo noworae obeka dofolimbae. Wulalo aitu bepatudjuno so nosalo maafu ne obeka taka wulalo sigahano nokido , nompona kaawu andoa dokalamu salo maafu ne obeka rampahano dokohengke nomandamo. Wolalu noratomo tewise lambuno obeka maka dofointaramo maka notudue dupesua welo lambu maka noghontoe tora pada doposua. Obeka aitu norakoemo tora wulalo, nando mofileio taka kabari  dua metono. Ampa ani obeka be wulalo dopohalati.

Keterangan  :
          Dalam kebudayaan suku Muna tidak ditemukan adanya prosa lama bentuk drama. Hal ini, karena wilayah Muna pertama kali dikuaasi oleh kebudayaan yang bernafaskan Islam sehingga drama tidak ditemukan di daerah Muna. Terkait dengan prosa lama yang berupa sejarah di daerah Muna, menurut sumber yang terpercaya dalam hal ini orang-orang tua dulu menyatakan bahwa sejarah di Muna ada seperti sejarah Sawerigading. Namun, belum penulis temukan karena sulitnya menemukan sumber yang mengetahui jelas ceritra tersebut.

      

Kamis, 24 Mei 2012

Sudah takdir

Terilhami dari novel Rembulan Tenggelam Di Wajahmu karya Tere-liye
    Oleh : Ismira

        Mengapa manusia selalu memandang berbagai hal dari sudut yang berbeda? Kadang selalu mengutarakan sesuatu yang tidak nyata? Memutar balikkan fakta selalu jadi keahlian yang tumbuh tanpa disadari. Manusia selalu berpikir, hidup tak adil, itu adalah suatu pandang subjektif. Tetapi di balik kertidakadilan tersebut justru terselip sebab akibat yang menghubungakan satu orang dengan orang lainnya, kita terkadang menjadi sebab akibat bagi orang dan juga sebaliknya. Itulah takdir hidup.
          Pandangan selalu menjadi opini yang membutuhkan pembenaran. Mengapa? karena kita selalu memandang dari sudut yang berbeda walau dengan objek yang sama. Banyak orang mengatakan mata tak dapat berbohong tapi di sisi lain selalu ada kacamata hitam yang menutupi kebenaran tersebut. Maka, manusia selalu bertanya dan mengikuti kata hati. Namun, hati juga selalu berdusta mengikuti nafsu yang dikendalikan oleh otak yang telah tercemar oleh hasutan setan yang tak henti menggoda. Lalu, dimana kita harus bertanya dan mengadu? Tentu saja pada yang Maha Tahu.
         Terlepas dari semua hal tentang keadilan, manusia juga selalu beranggapan bahwa Tuhan selalu memudahkan orang-orang yang berniat jahat dan selalu mempersulit orang-orang yang berbuat baik dan terkadang mengambil kebahagian yang tinggal sejengkal untuk diraih. Entahlah..tapi ini semua takdir yang akan menjawab. Hanya satu hal yang dapat dipastikan, Tuhan tidak akan memberi apa yang kita inginkan tapi Tuhan akan memberi apa yang kita butuhkan.
        Uuuhhh......sepertinya otak gue tambah koslet ni !!!! uuuhhh....bangun...bangun mesti cuci muka dulu ni biar segeran dikit tapi kan lagi ujian,,entar aja deh !!. Ya..ampun sejak selesai membaca novel Tere-Liye, otak, perasaan dan semangat gue campur aduk dan sesekali gue berpikir keras tentang kehidupan gue yang hingga usia segini belum berbuat apapun yang berguna. Kegiatan gue cuma mentok pada rutinitas minta ongkos angkot ma mama, majakin bapak gue buat uang jajan, nyampai kampus kerjanya cuma ngegosip ma gifo. Tau kan gifo... gila foto,, apapun kegiatanya didokumentasi bareng teman-teman yang gilanya ngak jauh-jauh beda ma gue. Hehehe !!!!
       Sejak nyelesaiin novel itu  gue selalu mimpi aneh dan nggak jelas. Yang pastinya alam bawah sadar gue selalu memotivasi gue untuk mengubah kebiasaan gue yang tidak berguna bagi sebagian orang. Namun, bagi gue yang berjiwa muda, ngumpul dan ceritaiin keburukan orang tanpa melihat diri sendiri adalah surga dunia. Istilah kerennya ni penderitaan elo kebahagian  gue...hehehe.  jahat sih jahat namanya juga hobi.
        Eeeemmm...udah menginjak semester enam di bangku kuliah gue masih santai seperti semester-semester awal. Sementara teman-teman gue yang rada serius udah pada mempersiapkan judul buat diajuin. Beda ma gue yang pikirannya masih pengen main. Gue adalah orang yang nggak suka ngerjaaiin sesuai pake dicicil. Entahlah...ada apa ma otak gue ni tapi kalau ngerjaaiin tugas jauh-jauh hari sebelum  dikumpul bawaan gue malas luar biasa tapi kalau ngerjaaiin tugas pas besok dikumpulnya, otak ge jalan boo...kanya kompas nunjukin arah utara pas lagi di tengah lautan yang tanpa arah, mutarnya cepat..hehehe,,,nggak maksud nyombongin diri tapi kalau dipikir-pikir otak guna cukup encer bila dibandingkan dengan otak sinpansen dan bangsa premata lainnya,, gue cuma kalah di ajang panjat pohon aja  maklum gue ngalah gitu loh hehehe...biar monyet ngak demo.
      Tapi...aneh bin ajaib, novel yang selesai gue baca selama lima hari baru kelar justru mengusik batin gue. Heran gue,,, karena ini hanya sebuah novel gitu loh...tebalnyanya juga ngak tebal-tebal amat paling lau pake bantal buat tidur cuma nyenykin dua jam dong...beda jauh ma novel twilight saga yang empat edisinya habis gue baca bahkan gue ulang-ulang, yang kalau dirinciin tebalnya lebih dari dua rim kertas A4 lau diprint pake canon. Entah... apa yang menggangu-gangu ketenangan gue dari novel ini. Satu kata yang dapat menjadi alasannya bahwa kita menjadi alasan bagi orang lain dan orang lain menjadi alasan bagi kita dan itu disebut takdir. Ya Allah...kenapa gue lupa,,!!! Sesungguhnya semua ini telah diatur dengan apik dalam bingkai kehidupan .
        Jantung gue mulai deg-deggan mikirin hal-hal yang baru gue sadari di usia dua puluh tahun gue yang gue pikir sempurna buat ukuran gue pribadi. Apa yang gue telah lakukan yang membuat orang lain menderita atau sensara. Hanya itu yang ada di benak gue ngak dihitung gimana cara gue membuat orang lain bahagia yang gue pikirin sedihnya dulu. Hitung-hitung jangan sampai ada ucapan maupun perbuatan gue yang menimbulkan penderitaan dan dendam kasumat yang tersimpan dan membuat orang–orang tersebut nggak suka ma gue. Waduh gawat...!!! giamana nanti gue pertanggungjawabkan ma Tuhan ya...secara dalam novel juga diungkapin teman-teman pemeran utama yang meningggal di usia muda,,aaaa...gue jadi merinding ni.
       Ya ampun...gimana ni,,, perbuatan baik gue lau dipikir-pikir baru dikit baget dibanding dosa gue selama ini teruma dosa gue yang selalu majakin bapak gue pas dia lagi kaya trus musuhin dia pas dia lagi miskin bahkan kalau di miskin bangen ditanyapun gue nggan buat jawabnya !!! eemmm...bukan salah gue juga dong mengapa kepribadiaan gue jadi mantre abis,, bapak ma mama gue mesti ikut tanggu jawab dong siapa suruh manjaiin gue sampai segitunya jadi kebawa kebiasaan kan!!!
       Stop..kita lagi bahas tentang batin gue yang bergejolak tak menentu nie...jantung gue berdetak kencang saat gue ingat sahabat terbaik gue yang gue buat nangis pas lagi presentasi.  Presentas yang merupakan tugas mid mata kuliah. Aaahhhh....kenapa gue lakuiin itu !!!. akibatnya fatal abis dan buat hubungan persahabatan gue renggang bahkan gue agak canggung lau bertemu ma dia bahkan gue berusaha untuk ngindar dari dia. Uuuhhh...gue menjadi sebab bagi takdir dia terhadap nilai mata kuliah itu. Jangan sampai dia nggak lulus karena pertanyaan gue yang lagi semangat-semangatnya waktu itu ngajuiin pertanyaan. Kalau begini gue pengen bangen nangis mikirin kelalaian gue,,seharusnya gue nggak usah bertanya waktu itu. Tapi semua udah terlanjut yang tersisa Cuma sumpah gue untuk ngga pertanya dan nggak mau peduli lagi ketika dia tampil prentasi atau apalah itu. Intinya gue nggak mau terlibat dalam segalah hal yang mungkin akan berakibat fatal lagi dan buat hubungan gue ma dia benar-benar hancur berkeping-keping kaya gelas yang dibanting di jalan raya.
       Sejak kejadian itu gue memutuskan untuk berpikir sebelum bertindak karena selama ini gue selalu bertindak tanpa mikirin akibatnnya yang gue tau hati gue pengen otak dan tubuh gue ngelakuiin hal tersebut. Akibatnya, liatlah gue sekarang jarang senyum selalu berpikir kritis, kebanyakan galau, tidak suka neko-neko walaupun masih sering lupa karena keasikkan dan hasutan setan-setan kecil yang menjadi sahabat karib gue selama ini.
      Uuuhhh...gue mesti perbaikin semua ini. Tekat gue yang paling kuat telah sepakat dengan otak gue yang kadang nggak sejalan. Berubah !!!
“Baju kuning-baju kuning...!! kamu sudah selesaikan? kumpul sekarang..!!.tersetak gue nyadari ternyata gue lagi ngelamun pas lagi ujian final!!! Uuuhh....malu-malui ajah deh,,,eeeemmm tunggu dulu mikir dulu sebelum bertindak (malaikat di samping gue ngingatin). Oowww... iya, jangan bertindak gegabah( kaya detektif aja). Hehe...entar lagi bu !!!! semua harus dipikir kan. Akhirnya pergolakin batin gue terhenti dengan panggilan baju kuning. Ingetin kebiasaan ke belakang aja pas abis makan. Eemm..dari pada lama mending dikumpul aja deh dari pada bikin beban batin lagi...toh kalau ditunda nggak ada jawaban yang  gue ubah dan nilai tetap gitu-gitu aja. Bikin pantat gue tambah panas duduk kelamaan..eee...akhirnya...gue cuma bisa bilang...kan udah TAKDIR !!!
                                                              *** Tamat***

TogaDuka

Karya : Ismira yanti 

       Aku duduk terpaku di hadapannya, kami saling memandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Detik berlalu dan menit pun mengikutinya.Tetapi, aku tetap tak beranjak pergi.Waktu terus berlalu, akhirnya terpaksa harus kukatakan maksud dan tujuanku padanya.Kutarik nafas dalam-dalam dan kukeluarkan melalui mulut.Em….mmm, suaraku yang parau menahan sedih memecahkan keheningan yang ada.Lalu dengan kedua tanganku kurengguk dia dan kudekatkan pada wajahku. Sambil berkata “Sorry bro, kamu harus tamat di tanganku sekarang juga”
        Plakkkkkkkkkkkk …… bunyi celengan ayam-ayam kesayanganku yang baru saja kupecahkan di lantai kamar kostku, yang kepingannya senada dengan hancurnya hatiku yang harus merelakan celengan kecil berwarna merah tua yang telah setahun kumiliki dan selalu kuisi walau aku harus makan seadanya sebagai kosekuensi uang makan yang kukurangi.
       Kupunguti uang lembaran sepuluh ribu dan uang seribuan serta kukumpulkan uang receh milikku dengan sangat berat hati, diiringi dengan menetesnya air hangat dari kedua pelupuk mataku. Aku teringat kedua orang tuaku di kampung melalui dua lembar surat yang dikirim kemarin dan sengaja dititipkan kepada saudara di pelabuhan.
   
         Assalamu’alaikum wr.wb. dan salam sayang buat anakku.

          Ananda yuli yang Ayah dan ibu banggakan,

    Bagaimana keadaan ananda di kota dan kuliah ananda di sana? Semoga ananda sehat dan semua lancar, serta selalu dalam lindungan Tuhan yang Maha Kuasa. Ananda maafkan Ayah dan Ibumu ini karena untuk semester ini, Ayah dan ibu belum bisa mengirim uang untuk memenuhikebutuhan ananda di sana. Ananda jangan kecewa dan jangan berburuk sangka, tiada niat Ayah dan ibu untuk melepas tanggung jawab sebagai orang tuamu. Tetapi, ini semata-mata karena keuangan keluarga kita yang memburuk akibat gagal panen, ditambah adikmu Ali yang mulai mendekati ujian nasional di SMP. Jadi, Ayah dan ibu harap ananda mengerti dengan keadaan ini.
    Yuli anak kebanggaan Ayah dan ibu, kami harap ananda tidak berkecil hati dan jangan mengkhawatirkan kami di sini, serahkan semuanya kepada yang Maha Kuasa.
    Ananda yuli sekali lagi, maafkan Ayang dan ibu. Tetapi, kami berjanji secepatnya akan mengusahakan uang untuk ananda. Karena Ayah dan ibu tahu kalau akhir-akhir ini ananda membutuhkan uang yang banyak untuk menyusun skripsi.
    Ananda sekian dulu surat dari Ayah dan ibu, harap ananda menjaga kesehatan agar cepat menyelesaikan skripsi dan segera lulus, sehingga dapat menjadi guru yang baik karena ananda bukan hanya menjadi kebanggaan Ayah dan ibu tapi, juga menjadi kebanggaan kampung kita.
                                                                                                              Wasalam,
           
                                                                                                         Orang tua ananda.

        Ya Allah, cobaan apa ini? Mengapa di saat hamba membutuhkan uang yang banyak, orang tua hamba malah gagal panen, apa salah hamba ya Allah. Eks….ssss,     Betapa sesaknya dadaku berusaha menahan tangis yang ingin kutumpahkan di muka bumi ini. Tapi, sengaja kupendam agar tidak terdengar oleh telinga-telinga yang melintas di depan kamar kostku, yang notabenenya sangat ramai menjelang magrib tiba. Rasa lapar yang kurasa, hanya kututupi dengan nasi dingin dan garam dapur yang membuatku semakin terpuruk dalam keaadaan yang menyedihkan sampai aku terlarut dalam pelukan malam di lantai kamarku yang hanya dilapisi terpal plastik yang super dingin di musim panas.
       Dalam keadaan setengah terjaga, aku mendengar teriakan anak-anak asramaku berseru sambil berkata “Makan bareng yuk, saya punya ikan goreng nih” yang kemudian disusul oleh teriakan selanjutnya “Ayo! Siapa takut, saya juga punya sayur nih, saya punya nasi, saya punya sambal”. Semuanya berseru untuk menyumbangkan makan malam bersama.Teriakan yang tidak asing lagi bagiku sebagai penghuni kost-kostan.Itu adalah tradisi anak-anak kost menjelang makan malam tiba.Mereka saling memaggil untuk makan bersama, saling berbagi makanan yang mereka punya layaknya sebuah keluarga dan teman seperjuangan tentunya.Ini dilakukan sebagai wujud solidaritas sesama anak kost yang kebanyakan merupakan para perantau dalam misi menuntut ilmu.Tetapi, aku tetap saja tidak berkelik dari posisiku dan berusaha untuk tidak mempedulikan mereka dengan menutup kedua telingaku dengan tangan kemudian melanjutkan ritual menangis semalam.Bukan aku tak mau atau sombong, bukan pula karena aku tak lapar, tetapi rasa malu dan gengsi yang mendera.Sebab, malam itu aku tak punya makanan untuk dibagi dan keadaan itulah yang kini menghantuiku dan membatasi ruang gerakku.

                                                                           ***
             Cahaya matahari yang bersinar masuk ke dalam kamarku melalui sela-sela daun jendela yang menghadap ke timur, membangunkannku dari tidur panjangku sejak kemarin sore.“Astagfirrullah… aku kesiangan!”Segera kutarik handuk berwarna biru muda di sisi ranjang miniku dan bergegas menuju kamar mandi yang sudah sepi dari penghuni kost lainnya yang sudah berangkat sebelum pukul 08.00 pagi. Kuguyur air di tubuhku yang terlihat agak kurus karena sering begadang sampai larut malam untuk menyelesaikan skripsiku dan tentunya tekanan batin dan stres yang mulai menghantuiku sejak kedatangan surat dari kedua orang tuaku di kampung. Hu…hu…hu, dingin air tak meghalangiku untuk membersihkan diri yang mulai kucel di pandang mata, dengan tergesa-gesa aku kembali ke kamar, berpakaian, lalu dengan rambut yang kusisir seadanya aku langsung berlari menuju kampus yang terletak ± 500 m dari asrama tempat tinggalku.
           Kuberhenti sejenak untuk memperbaiki posisi sepatuku yang hampir terlepas karena berlari “Yuli kamu tidak apa-apa?” terdengar suara dari belakangku yang justru mengagetkanku, ternyata itu hanyalah seorang kenalan yang sekedar menyapa dan memamerkan senyum termanisnya lalu bergegas pergi.
           Kucoba mengatur napas dan merapikan pakaianku ketika sudah berada di depan ruangan dosen yang membimbingku selama ini dalam menyelesaikan skripsi. Kuketuk perlahan pintu ruangan itu dan terdengar suara yang mengizinkan aku masuk.Aku dapat melihat dengan sangat jelas, dosen dengan kacamata minus tebal di atas hidungnya sudah menungguku. Dag…dig…dug, jantungku bergetar dengan cepat menanti dosen tua itu berbicara sampai keringat dingin mulai mengalir di seluruh tubuhku sehingga membuatku dapat merasakan dinginnya suhu rutan yang banyak ditakuti orang,.membuatku dapat mendengar suara detak jantung dan hembusan napasku sendiri sehingga aku merasa tidak nyaman untuk berlama-lama di ruangan itu.
 
                                                                        ***

             Seminggu telah berlalu dengan langkah pasti dan senyum yang terus mengembang di bibirku, aku memasuki area kampus dengan kemeja putih rapi dan rok lipit berwarna hitam yang kupadukan dengan sepatu tantofel warisan ibuku. Denga langkah yang kupercepat, aku menuju gedung tempat mahasiswa akan diuji tentang skripsi dan aku adalah salah satu dari mereka. Sepanjang perjalanan bibirku yang dilapisi dengan pewarna merah muda tak henti-hentinya berdoa semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Sepanjang perjalanan itu, pikiranku melayang  ke beberapa minggu lalu. Sungguh luar biasa celengan ayam-ayam kesayanganku mampu mengantarkan diriku yang berhati kecil ini meraih mimpi yang didambakan oleh kedua orang tuaku.Teringat betapa ingin Ayahku menginjakkan kaki di kampus tempat akau menuntut ilmu.Hal itu beliau sampaikan pada malam sebelum aku berangkat merantau dulu.Betapa bersemangat dan membaranya keinginan tersebut bahkan wajah tampan yang mulai terkikis usia itu seolah lebih muda dan berseri-seri karena luapan bahagia bahkan ibuku tak kuasa membendung air matanya karena turut bahagia.
             Tepat pukul 13.15, aku keluar dari ruangan ujian denganperasaan lega, seakan-akan semua bebanku terangkat dan kutinggalkan di ruang ujian.Beban atas harapan dan pengorbanan kedua orang tuaku.
            Ucapan selamat terus mengalir dari rekan-rekanku sebab skripsiku telah ditandatangani oleh para penguji dan turut mendapat pujian yang tidak pernah terlintas di benakku. Dengan perasaan lega, aku mengucap syukur pada Allah SWT dan tanpa membuang-buang waktu, aku langsung menghubungi kedua orang tuaku untuk menyampaikan berita bahagia ini sekaligus memberikan kejutan untuk mereka agar mereka dapat mendampingiku di saat aku diwisuda sebagai lulusan terbaik dari program studi pendidikan matematika dengan hasil yang sangat memuaskan dan masa kuliah selama tiga tahun enam bulan saja.
           Semua gaya dan ekspresi kebahagiaan mereka terbayang di pelupuk mataku ketika aku mulai menekan tombol-tombol di hpku. Betapa bahagianya Ayahku sambil mengucap puji syukur, ibuku yang berlinang air mata bahagia merangkul adik-adikku.Dan ekspresi adik-adikku yang melompat saking bahagianya memiliki kakak seorang sarjana dan lulusan terbaik.Bahkan, terbayang para tetangga yang mengarakku keliling kampung layaknya seorang pengantin baru.Semua terlintas dengan senyum bahagia yang khas dari mereka masing-masing.
          Tapi harapankutidak sesuai dengan kenyataan yang ada, bukan aku yang memberi kejutan tapi, aku yang terkejut karena ibu menyuruhku untuk segera pulang ke kampung, padahal selama hampir empat tahun, Ayah dan ibu tidak pernah mengizinkan aku untuk menginjakkan kaki di kampung halamanku sebelum aku sukses.
           Akhirnya sore itu juga, aku putuskan pulang ke kampung.Setelah selesai menelepon ibuku, aku bergegas ke kamar kostku untuk berkemas. Dibantu dengan teman-teman yang satu asrama denganku, aku mengemas barang-barangku seadanya karena aku yakin akan kembali lagi minggu depan bersama kedua orang tuaku untuk menghadiri acara wisuda. Aku  pun berpamitan dengan anak-anak kost dan bapak pemilik asrama, serta mengabarkan bahwa aku akan pulang kampung untuk menjemput kedua orang tuaku.

                                                                     ***

         Belum juga matahari bangun dari peraduaannya, kapal yang membawaku pulang sudah bersandar di pelabuhan.Perlahan kulangkahkan kakiku di tanah kelahiranku yang telah lama kutinggalkan. Jam menunjukan pukul 07.00 pagi. Uhhhhh.... kuhembuskan napasku. Lama sudah aku menunggu tapi tak tampak jua, orang-orang yang kuharapkan menjemputku pulang setelah hampir empat tahun aku pergi merantau di negeri orang. Hatiku bertanya-tanya mungkin Ayah dan ibuku lupa aku akan pulang hari ini. Kulirik kembali jam tangan di lengan kiriku, tak terasa sudah tiga jam aku menunggu.
               Akhirnya kulangkahkan kakiku keluar area pelabuhan dan berjalan menuju tempat angkutan umum beroperasi. Kupilih angkutan berwarna merah maron karena seingatku angkutan itu selalu melintasi perkampungan di pinggiran kota. Sepanjang perjalanan aku terus memandang keluar melalui jendela angkot, hatiku begitu tersentak melihat besarnya perubahan yang terjadi di wilayahku selama aku tinggalkan.Sepanjang mata memandang, bangunan beton berdiri di hampir seluruh ruas jalan yang kulalui.Tidak ada lagi persawahan dan ladang masyarakat, hamparan hijau rumput serta binatang ternak. “Minggir pak. . .!!!!” kataku, menunjukan bahwa aku telah sampai di tempat tujuan dan menyadarkanku dari keterkejutan .Kuserahkan dua lembar uang lima ribuan dan angkot itu pun kembali melaju.
           Kuhirup udara kampung halamanku dalam-dalam lalu kutahan kemudian kuhembuskan melalui mulut, hatiku bahagia dan berdebar-debar menanti reaksi warga kampung melihat aku kembali. Kujatuhkan tas dan koper dari genggamanku, lalu aku berlari sekuat tenaga.
Kain putih di halaman rumah orang tuaku membuat jantung berdebar lebih kencang dan air mataku tak henti-hentinya mengalir, seakan-akan jantungku yang berdebar kencang berhenti seketika, waktu berhenti di hadapanku dan kakiku tak mampu lagi menyokong tubuhku yang seolah tak bertulang, melihat apa yang ada di depan mataku yang mulai berkaca-kaca.
       “Ayah. . . . Ayah. . .!!!!!
        Bagun Ayah, Yuli pulang yah….!!!!!
          Bangun yah, ayah bangun….., Ayah sudah janji  mau lihat Yuli diwisuda….Ayah. . ., “kuguncangkan tubuh kaku yang terbalut kavan itu tetapi tubuh itu tidak bereaksi, kuteriak sekencang-kencangnya dengan sisa tenaga yang kumiliki, “Ayah…..!!!! Ayah bangun yah, Yuli sayang Ayah, Yuli … Yuli … ekssssss Ayah… yah kenapa nggak nunggu Yuli yah? KenapaAyah?”
Waktu terus saja berlalu dan tak mau berhenti untuk turut berduka dan menangisi keadaan ini.Ia terus saja berbagi dengan sahabat sejatinya yaitu siang -malam dan tak satu pun dari mereka yang mau menghiburku, maupun berbagi cerita denganku. Mereka hanya mampu berkata melalui semilir angin yang menerpa “Yang lalu biarlah berlalu karena waktu yang akan menyembuhkan luka di hati”.Ya, beberapa hari lalu, Ayahku telah di makamkan tetapi duka dan luka di hati ini tetap saja mengeluarkan darah dan perih yang menyiksa dan tak semudah itu melupakanya.
             Melalui adikku, udin. Aku mengetahui bahwa sudah dua tahun Ayahku menderita komplikasi penyakit antara diabetes, rematik, dan TBC tetapi Ayah tak ingin berobat ke dokter karena alasan biaya. Akhirnya, keluargaku hanya mengobati Ayah dengan memanggil dukun kampung dan meminum ramuan-ramuan tradisional.
          Satu hal yang tidak aku mengerti, selama dua tahun Ayahku sakit, tak ada satupun yang mengabari aku.Mereka semua menutupinya dariku dengan mengatakan mereka baik-baik saja melalui surat-surat yang mereka kirim dan itu membuatku semakin terpukul.
Waktu tak peduli padaku.Oleh karena itu, aku harus menaklukannya dan membuat Ayahku bangga. Aku bertekat kembali ke kota dan mengikuti acara wisuda yang menjadi impian mereka sejak dulu yang harus tetap kuwujudkan. Walau, kedua orang tuaku tak dapat mendamping tapi kuyakin doa Ayah dan ibuku tercinta pasti setia menemani dan akuyakin itu.
             Ibu tak dapat menemaniku ketika aku diwisuda sebab sepeninggalan Ayah, ibu jatuh sakit dan tak mau diajak bicara, apalagi untuk bepergian jauh.Beliau hanya duduk termenung mengenang Ayahku setiap hari.Aku pun tak ingin menambah bebannya lagi.Akhirnya, kuputuskan untuk mewujudkan impian Ayahku seorang diri.
             Lusa, dua peristiwa yang sangat penting dalam hidupku akan berlangsung dan keduanya saling bertolak belakang, hatiku gundah gulana menentukan pilihan, haruskah aku bahagia karena berhasil diwisuda dengan predikat yang baik dan berhasil impian kedua orang tuaku ataukah aku harus bersedih karena hari ini diselenggarakan hari ketujuh untuk  Ayah yang sangat kami cintai.

                                                                                  ***
              Aku duduk di bangku terdepan seorang diri dengan pakaian kebesaran lambang keberhasilan mahasiswa, tentu dengan rasa iri di hati melihat mereka yang didampingi kedua orang tua mereka, dengan wajah yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyum terbaik dan termanis saatmenerima ucapan selamat.
           Kurengguk togaku setelah menerima ucapan selamat dari rektor .Kucium serta kuteteskan air mata di toga tersebutsebagai wujud persembahanku bagi Ayah. Kukatakan pada dunia, Ayahku adalah Ayah yang paling hebat.
      Ayah semoga engkau tersenyum di sana melihat keberhasilanku hari  ini. Terima kasih !!!

                                                                                Tamat